Kopi Pirak Jogja, Lokasi Alternatif untuk Healing

[arsip] sebelumnya sudah pernah saya posting di Kompasiana :)

Bagi kalian yang sedang atau pernah di Jogja, mungkin pernah mendengar kalimat ini “setiap sudut Jogja itu istimewa”. Bukan tanpa alasan kalimat tersebut muncul. Jogja memang terkenal memiliki daya tarik, baik berupa kebudayaan hingga pada objek wisatanya. Sehingga tidak heran jika banyak wisatawan yang datang berkunjung dan merasa betah berada di kota Istimewa tersebut.

Ga mau terlalu banyak basa basi, di kesempatan ini saya mau mengulas salah satu destinasi kuliner menarik yang ada di Jogja. Namanya adalah Kopi Pirak, lokasinya berada di desa Sidoluhur, Godean, Sleman, DI Yogyakarta.

dok. pribadi

Dari pusat kota, hanya perlu menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam. Jarak yang tidak begitu dekat, tapi juga tidak terlalu jauh. Memang cocok menjadi tempat rehat ketika ingin menghindar sementara dari atmosfer perkotaan. Untuk menuju ke Kopi Pirak ini, bisa menggunakan kendaraan apapun, tapi bukan bus pariwisata loh ya. Aksesnya dari kota lancar, parkirannya pun bisa untuk mobil dan motor. Jika tidak punya kendaraan pribadi, misalnya para wisatawan, bisa menggunakan transportasi umum hingga online. Semua bisa dijangkau.

Oke kembali ke warungnya. Meski namanya Kopi Pirak, warung ini tidak sekedar menjual kopi. Hanya memang tersedia berbagai varian menu kopi, dengan salah satu menu kopi khasnya yaitu Kopi Pirak yang merupakan kopi dengan paduan rempah Arab. Saya tidak bisa menjelaskan lebih jauh mengenai menu ini, karena memang belum pernah saya coba.

Selain kopi-kopian, salah satu menu andalan yang menjadi favorit para pelanggan adalah sop iga dan nasi goreng cuminya yang maknyus. Jadi, Kopi Pirak ini seperti warung pada umumnya, yang menyediakan berbagai macam makanan dan minuman. Berbagai pilihan menu seperti sajian cumi, iga sapi, nasi goreng, penyetan hingga snack ringan. Untuk harganya sendiri, minuman berkisar Rp. 4.000 - Rp. 12.000. Sedangkan makanan mulai dari harga Rp. 8.000 - Rp. 50.000.

Lokasinya yang berada di desa dan bentuknya yang tradisional, tentu tidak hanya menu kuliner umum yang disajikan. Tersedia pula berbagai menu tradisional seperti penyetan, mendoan, bir Jowo, dan berbagai wedangan rempah. Saya sendiri menu favorit ketika berkunjung ke Kopi Pirak ini adalah sop iga dan teh tubruk panas. Teh panasnya spesial yang menggunakan gula batu.

Sop Iga + Teh panas

Apa yang menjadikan tempat makan ini menarik? Tentu yang pertama adalah menu-menu khas yang menjadi jualan utamanya. Selain itu, lokasinya cukup jauh dari keramaian kota. Sehingga sangat cocok bagi kalian yang jenuh dari hingar bingar suasana perkotaan, atau mungkin hanya ingin sekedar melepaskan penat setelah sibuk bekerja.

Tempat ini akan mulai ramai ketika sore hari, setelah jam pulang kerja. Banyak yang mampir untuk healing singkat selepas kerja, mahasiswa yang mengerjakan tugas, atau pengunjung yang hanya datang untuk nongkrong. Begitu pula di waktu weekend, seringkali para pengunjung datang dan menikmati sajian bersama keluarga.

Suasananya syahdu dan tenang. Tempatnya mengusung suasana lawas atau klasik. Dengan satu bangunan pendopo yang menjadi bangunan utamanya. Dihiasi berbagai macam tanaman dan juga lampu-lampu cantik (makin syahdu ketika malam hari). Di beberapa titik terdapat sangkar burung, sehingga suasana pedesaan semakin terasa dengan adanya kicauan burung. Fasilitas umum cukup lengkap seperti toilet, parkiran luas, dan juga mushola kecil bagi pengunjung muslim. Tidak lupa juga WI-FI gratis bagi kamu yang gemar berselancar online.

Satu lagi yang membuat tempat ini menarik adalah, di hari-hari tertentu, pengunjung akan disajikan penampilan live music akustik. Pengunjung bisa request lagu hingga maju untuk menyanyikan lagu.

Nah teman-teman harus kesana sendiri deh, biar bisa merasakan langsung bagaimana syahdunya warung kopi ini. Terutama bagi kalian yang jenuh dan butuh ketenangan, Kopi Pirak bisa jadi pilihan.

Post a Comment

0 Comments