Wae Rebo, Desa di Atas Awan

Beberapa hari yang lalu, saya dan Iman baru saja melakukan petualangan spektakuler nekat ga jelas. Kami mengunjungi Wae Rebo, sebuah desa tradisional unik yang ada di Kabupaten Manggarai. Walaupun satu kabupaten dengan desa saya, jangan dikira lokasinya dekat, bisa makan waktu berjam-jam. Kabupaten Manggarai sangat luas, bahkan sudah mekar menjadi 3 sekarang. Tapi memang penduduknya lebih sedikit dibanding dengan kabupaten, misalnya di Jawa, yang lebih kecil. Karena Manggarai wilayahnya lebih banyak gunung dan hutan.

Wae Rebo beberapa tahun terakhir menjadi sangat populer, berkat wisatawan yang datang dan menyebarkannya melalui media sosial. Saya sendiri tahu dari youtube seriesnya Jalan Jalan Men. Jujur saja, sebelumnya saya sebagai orang Manggarai sama sekali tidak tahu mengenai kampung adat Wae Rebo ini. Lucu, malah tahu dari masyarakat luar. Tahun lalu saya pernah berniat mengunjungi desa tersebut bersama Ari, Alek, dan Gita. Hanya saja waktu itu cuaca tidak mendukung, makanya kami mengurungkan niat.

Tahun ini akhirnya saya bisa ke sana, padahal tanpa perencanaan.

Oke lanjut ke petualangan kami...

Awalnya tidak ada rencana, berawal dari pembicaraan iseng bersama teman-teman ketika nongkrong di depan rumah saya. Ada yang mengajak untuk pergi ke Wae Rebo. Tapi seperti biasa, rencana yang belum tahu kapan terlaksana. Nah si Iman malam itu langsung mengajak saya, berangkat berdua, jalan nekat. Kapan? besok subuh meluncur dari rumah.

Ga pake banyak bacot, malam ngomong, besok subuhnya berangkat. Sama Iman emang kalo udah ngomongin petualangan, gimanapun kondisinya hajar :D Tidak memikirkan persiapan atau apa, langsung hajar. Masalah bingung atau nyasar, urusan belakangan. Akhirnya malam harinya saya bermalam di rumah Iman, agar besok bisa langsung berangkat tanpa harus saling tunggu dan jemput. Sekitar jam 6 pagi kami meluncur dari rumah Iman, menggunakan sepeda motornya.

Oya, akses kalau tidak punya kendaraan pribadi dari Reo, desa saya, ke Wae Rebo cukup rumit. Dari Reo menggunakan travel sampai Ruteng. Dari terminal Ruteng menggunakan oto kol, bus bak terbuka, salah satu transportasi umum khas Manggarai/Flores. Dan harus pagi-pagi, bus tersebut berangkat sekitar jam 8 pagi. Dan hanya satu kali sehari. Makanya kami memilih untuk menggunakan motor. Nah bagi yang tidak punya motor, di Ruteng ada kok yang bisa menyewakan motor.

Sekitar dua jam perjalanan, kami sampai di Ruteng. Kami tidak langsung melanjutkan perjalanan, kami mencari sarapan. Eh kami berhenti sejenak di sini bukan hanya untuk sarapan, tapi karena ingin mengunjungi sawah Lingko Cara. Mengenai objek wisata ini akan saya ceritakan di postingan selanjutnya.... nanti terlalu panjang.

Petualangan dimulai
Oke, dari Ruteng, kami melanjutkan perjalanan sekitar pukul sembilan lebih. Dari sini kami hanya bermodalkan niat, nekat dan bertanya kepada masyarakat sekitar. Perjalanan normal dari Ruteng ke Denge (desa terakhir sebelum pendakian ke Wae Rebo) memakan waktu sekitar 3 jam. Kami menghabiskan waktu 5 jam :D

Kenapa kok bisa lama? tidak ada satupun dari kami yang pernah pergi atau melewati jalan yang saat itu kami lalui. Nyasar lah, salah arah lah, putar balik lah, kerap kami alami. Satu-satunya yang cukup membantu adalah bertanya kepada warga sekitar. Dan tidak semuanya mengerti lokasinya, jadi tetap harus sering-sering bertanya. Tapi kalau berpetualang bersama Iman, kendala apapun yang dialami, selalu kami hadapi dengan gembira. Tidak ada kepanikan, atau ngomel sana-sini. Saya pribadi menganggap bahwa, satu dua rintangan yang dialami justru akan menjadi cerita yang menarik untuk di ceritakan nantinya. Tapi yo pas ngalamin emang bingung beneran :D Tuh orangnya di foto sebelah sama kepala adat Wae Rebo.

Hanya saja, banyak pengalaman baru yang kami dapatkan. Kami melewati tempat-tempat yang sebelumnya belum pernah kami lewati. Terutama yang spesial adalah ketika melewati pesisir pantai selatan Flores. Sepanjang perjalanan disuguhi pemandangan laut dan pulau yang syahdu. Kami pun sempat mampir untuk beristirahat di pinggir pantai ini.

Sekitar pukul 2 siang, kami sampai di desa Denge. Biasanya kendaraan di parkir di desa ini, kemudian dilanjutkan dengan tracking, karena jalan yang akan dilalui sulit sekali dilewati kendaraan. Tapi saya dan Iman, terus menerobos. Sumpah ini kasian motornya. Memang benar jalannya sangat sulit dilewati kendaraan. Beberapa kali saya turun untuk mendorong motor, bahkan pada akhirnya kami berdua menuntun motor sampai akhir. Perjalanan menggunakan motor terhenti ketika sampai di pintu gunung. Hanya bisa dilalui dengan tracking, naik gunung melewati hutan. Kendaraan gak bisa, sama sekali kalo ini, diakalin pun ga bisa.

Lalu bagaimana dengan motor kami? Parkir di hutan cooook, malah menyesal kenapa tidak diparkir di desa Denge saja tadi. Tapi kalau kami parkir di desa, kami harus berjalan sekitar sejam lebih untuk bisa sampai di titik kami saat ini. Untuk tahun depan sepertinya sudah bisa dilalui, karena katanya jalan yang kami lalui tadi akan di aspal.

Dari tempat kami memarkir motor, masih harus tracking sekitar dua jam untuk bisa sampai ke desa Wae Rebo. Karena desa ini terletak di tengah-tengah pegunungan. Akan melewati hutan dan belum tau medan, kami disarankan untuk menggunakan pemandu. Akhirnya kami berdua berangkat diantar oleh pemandu daerah situ.

Wae Rebo, desa tersembunyi di atas awan
Pendakian yang sangat melelahkan, tetapi begitu pemandangan desa Wae Rebo ini terlihat, Seketika rasa lelah langsung musnah (tapi pas pulang, capeknya dobel). Memang sebanding perjuangan yang kami lalui untuk bisa menikmati pemandangan yang menakjubkan ini. Saya heran kenapa tidak dari dulu saya tahu ada desa seperti ini di Manggarai.

Di kampung ini ada tujuh rumah unik berbentuk kerucut, yang paling besar di tengah adalah rumah kepala adatnya. Ya tidak saya jelaskan panjang lebar, bisa lihat sendiri bentuknya di foto di atas. Saya juga bingung untuk menjelaskannya :D. Pokoknya syahduuu~

Pertama kali datang, kita akan diminta untuk masuk ke salah satu rumah, untuk disambut olah kepala sukunya. Setelah itu akan dijamu makan. Selesai makan barulah bebas mengelilingi desa tersebut untuk menikmati keindahannya.

Semakin sore terasa semakin syahdu, karena awan dan kabut mulai bermunculan. Terasa seperti berada di negeri di atas awan. Terakhir kali saya merasa berada di atas awan adalah ketika mendaki gunung Semeru. Saya dan Iman benar-benar terkagum menikmati suasana yang sejuk dan pemandangan yang indah. Pokoknya jalan dikit cekrek, pindah dikit cekrek, apa-apa foto teroos.

Selain kami berdua ada beberapa wisatawan lain dari Jawa, Kalimantan dan Brazil. Untungnya tidak terlalu ramai. Mereka bermalam dan baru pulang besok pagi, dan memang biasanya para wisatawan yang mengunjungi Wae Rebo pasti bermalam satu malam di sini. Tapi kami, ketika hari mulai gelap memutuskan untuk pulang, kalau di tanya puas sih belum, saya juga ingin rasanya menginap di sini. Lalu apa alasan kami langsung pulang?

MOTOR COOK, MOTOR SIAPA YANG JAGA DI TENGAH HUTAN??

Akhirnya sekitar pukul 6 sore, kami kembali ke tempat motor tercinta. Kali ini kami sok nekat tidak menggunakan pemandu. Yah alhasil kami sering kebingungan dengan jalurnya. Apalagi baru pertama kali dilewati, ditambah dengan malam hari, semakin tidak ingat jalurnya. Mengandalkan senter kami terus berjalan mengikuti feeling, dan sepertinya ada bantuan Tuhan yang kasihan dengan kami. Jujur saja kami juga sedikit panik ketika kebingungan dengan jalurnya.

Alhamdulillah pada akhirnya kami bisa bertemu dengan motor kami lagi. Tidak berlama-lama, hari itu juga kami langsung pulang ke rumah. Perjalanan pulang lebih lancar karena sudah paham arahnya. Menikmati perjalanan dengan santai, dan akhirnya sampai kembali di rumah dini hari. Saya tidur di rumah Iman lagi. Keesokan harinya terasa sekali capeknya. remuuk

Ya begitulah cerita petualangan saya dan Iman yang nekat dan tanpa rencana matang, namun super seru dan berkesan.

Post a Comment

0 Comments