Gua Batu Cermin

Akhirnya perjalanan mudik saya sudah hampir tiba di tujuan akhir. Saya dan teman-teman (Alek, Gita, Ary) sudah menginjak daratan Flores. Kami sudah sampai di Labuan Bajo, rencananya kami ingin mengunjungi naga purba yang hanya ada di sini, yaitu Komodo.

Di Labuan Bajo, saya punya paman, jadi kami tidak perlu menyewa homestay dan bisa stay di rumah om Joni (saya biasa panggil) sampai nanti ketika kami akan melanjutkan perjalanan ke tujuan akhir, rumah. Lumayan mengehemat budget. Tujuan utama kami memang megunjungi Taman Nasional Komodo, tapi karena kami stay di Labuan Bajo untuk beberapa hari, di hari yang santai ga ngapa-ngapain, kami mengunjungi salah satu objek wisata Gua Batu Cermin.

Kebetulan ada kerabat saya yang punya kenalan di objek wisata ini, jadi kami alhamdulillah bisa masuk gratis.

Gua ini bisa diakses mengunakan motor atau bemo (sebutan untuk angkot di kampung saya). Dari pelabuhan membutuhkan waktu sekitar 20 menit sampai setangah jam, sedangkan dari rumah paman, hanya memakan waktu sekitar 15 menit. Kami menggunakan bemo untuk menuju ke sana, karena tidak dapat pinjaman motor. Dipake ngajar ke sekolah :D

Kami menuju ke gua batu Cermin ditemani oleh kakak sepupu saya, yang tadi punya kenalan. Sampai di sana, kami bisa masuk gratis. Di loket masuk kami diberi senter dan helm pelindung, kek helm proyek gitu lho. Lalu di arahkan menuju ke lokasi Gua.

Lokasinya masih dikelilingi hutan-hutan. Ini kalo di Jawa mungkin sudah dikelilingi oleh warung dan penjual pernak-pernik :D. Ketika masuk, pertama kali saya langsung membayangkan Gunung Api Purba, Nglanggeran. Sepintas ketika disusuri hampir mirip. Bedanya di Api Purba tidak hanya gua tapi juga bukit dan gunung.

Sebagian besar di gua ini rasanya seperti berada diantara himpitan tebing batu besar. Mungkin namanya Batu Cermin karena bukan seperti gua pada umumnya, sebab bagian atasnya terbuka  dan cahaya bisa masuk lalu memantul dari tepi-tepi tebing batunya *apasih. Tapi namanya juga gua, tetap ada kok lorong guanya, di situlah kami menggunakan fasilitas senter, menyusuri gua yang gelap. Selain menyusuri dan menikmati suasana gua ini, tidak lupa kami melakukan ritual wajib. Apalagi kalau bukan berfoto ria, sembari beristirahat.

Setelah merasa cukup, menyusuri dan juga beristirahat, dan yang pasti sudah didokumentasikan, kami kembali ke rumah.

Post a Comment

0 Comments